Kamis, 18 Oktober 2012

Makan Nasi, Janganlah Minum Air Teh


Ini salah satu gambaran bagaimana interaksi antar zat gizi yang kita konsumsi bersama dapat membuat tidak optimal. Interaksi antara zat gizi ataupun dengan zat non gizi memang bisa berdampak positif, bisa juga negative.
Mengkonsumsi suplemen gizi atau non gizi dalam beberapa hal dapat memberikan keuntungan. Misalnya minuman suplemen, selain mengandung gula sebagai sumber energi, juga mengandung vitamin B yang akan digunakan sebagai pemacu metabolisme energi.
Tapi, jika suplemen gizi atau non gizi mengandung berbagai zat gizi sekaligus atau kadarnya sangat tinggi, kita perlu hati-hati. Sebab pada proses metabolisme di dalam tubuh akan terjadi interaksi di antara zat-zat gizi itu. Bahkan lebih gawat lagi, beberapa dari zat yang terdapat dalam suatu produk pangan dapat berubah menjadi racun.
Interaksi dapat terjadi antara suatu gizi dengan yang lain, atau dengan zat non gizi. Yang diaksud zat adalah zat gizi pati (gula), protein, lemak, vitamin, dan mineral. Semua dibutuhkan tubuh untuk tumbuh dan berkembang. Artinya, jika salah satu dari zat itu tidak ada dalam tubuh, maka akan terjadi gangguan. Sedangkan zat non gizi adalah zat selain zat gizi yang ada dalam bahan makanan, biasanya tidak dapat dicerna dengan jalur metabolisme biasa dalam tubuh.
Interaksi zat gizi atau non gizi dapat terjadi pada tiga tempat. Pertama, dalam bahan makanan(produk pangan). Kedua, dalam saluran pencernaan, dan Ketiga dalam jaringan system transport, dan jalur ekskresi tubuh. Masing-masing interaksi dapat bersifat positif (sinergis), negative (antagonis), dan kombinasi di antara keduanya. Interaksi disebut positif jika membawa keuntungan. Sebaliknya, disebut negative jika merugikan.
Dalam bahan makanan suatu zat gizi misalnya mineral dapat berinteraksi negative dengan zat non gizi. Asam fitat dalam sayuran, serealia, atau umbi-umbian dapat mengikat besi (Fe), seng (Zn), atau magnesium (Mg). akibatnya, mineral-mineral itu tidak dapat di serap oleh tubuh. Begitu juga dengan serat, tanin, dan oksalat yang tidak dapat mengganggu penyerapan kalsium (Ca).

Masalah sekarang, berapa jumlah serat satu teh yang mesti di konsumsi jika berlebihan, tantu akan mengganggu penyerapan beberapa mineral. Serat, misalnya, dapat mengikat Fe,Ca,Zn. Sementara itu untuk teh tampaknya perlu di waspadai.
Ada 2 jenis teh : Teh hitam dan teh hijau. Pada teh hitam senyawa polipenol yang berperan sebagai anti oksidan ternyata telah mengalami oksidas, sehingga dapat mengikat mineral seperti Fe,Zn, dan Ca, serta dapat menyamak protein. Untungnya pada teh hijau senyawa polifenol nya masih banyak sehingga kita masih dapat meningkatkan peranannya sebagai antioksidan.
Meskipun dalam daftar komposisi bahan makanan terlihat kandungan bahan pangan nabati cukup tinggi, kita harus bertanya dulu, apakah mineral itu dapat dimanfaatkan semuanya oleh tubuh. Hal ini harus di perhatikan. Karena kalau mineral-mineral itu terdapat dalam bentuk terikat dengan zat gizi, tentu tubuh tidak dapat dapat menyerapnya dengan baik. Artiyna di dalam tubuh mineral-mineral itu terdapat dalam bentuk terikat dengan zat antigizi, tenru tubuh tidak dapat menyerapnya dengan baik.artinya di dalam tubuh mineral-mineral itu hanya akan “NUMPANG LEWAT”.

Penyelamatan zat gizi dapat dilakukan dengan mengatur konsumsi bahan makanan tertentu, misalnya teh. Kita puyna kebiasaan minum teh bersamaan dengan saat makan nasi. Ini kekeliruan gizi yang harus di ubah. Seperti yang telah dijelaskan, teh mengandung tannin yang dapat mengikat mineral. Untuk itu sebaiknya minum teh tidak dilakukan bersamaan dengan makan, tetapi sekitar 2-3 jam sesudahnya.

sumber : http://brilliantoro.wordpress.com
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar